SALURAN EMBOMERTO & UPACARA ADAT

 " MEMBUAT SALURAN AIR EMBOMERTO DAN UPACARA SELAMATAN ADAT "



        Sebelum memulai pembuatan saluran air terlebih dahulu diadakan perencanaan dan program bersama antara Kyai Embo dan Nyai Sarinten, dimana tempat ditemukanya sumber mata air oleh Nyai Sarinten dan juga kelak Nyai Sarinten merencanakan akan membangun perkampungan disekitar situ, kemudian hasil kesepakatan yang kedua akan membangun saluran air dari sungai kupang (kali kupang).

     Pada hari Jum'at Wage bulan Jumadil Awal, dimulailah pelaksanaan pembuatan saluran air dan setelah pekerjaan selesai 50% Kyai Embo mendapat kesulitan karena terhalang oleh batu yang sangat besar, dengan demikian terpaksa untuk sementara pekerjaan dihentikan dan kembali sowan ke Kyai Nompo Boyo. Esok harinya Kyai Singoranu dan Nyai Sarinten membantu Kyai Embo dan tenaga-tenaga yang lain dan disertai membawa Pusaka "Tongkat Nogosari”. 

          Setelah rombongan sampai dilokasi pembuatan saluran, mereka melihat kenyataan yang tidak mudah untuk membuat saluran tersebut, maka dengan diiringi Do'a seraya memohon kepada Allah SWT, kemudian Tongkat Nogosari digunakan untuk membelah batu besar tersebut, akhirnya dengan keajaiban Tongkat Nogosari  batu besar tersebut dapat dibelah-belah dan yang sebagian dibiarkan dan digunakan untuk penyangga / pagar lorong agar tidak longsor, Selesainya pembelahan batu besar tersebut pekerjaan selanjutnya diserahkan kembali kepada Kyai Embo sampai pekerjaan selesai, kemudian air dapat mengalir sampai di Desa Wonosari untuk dîmanfaatkan bercocok tanam.

        Untuk mengenang keberhasilan tersebut setiap tahun sekali masyarakat mengadakan upacara selamatan dan menarik tongkat Nogosari (Linggis) di sepanjang sungai yang panjangnya ± 4 Km sampai di peristirahatan, adăpun di tempat peristirahatan disambut dengan hiburan kesenian Ledek (Ronggeng), setelah selesai hiburan lalu diadakan selamatan syukuran dan sampai sekarang saluran tersebut di beri nama Kali Embo Merto•

        Upacara Yang setiap tahunnya dilaksanakan oleh keturunan / generasi penerus dan dikembangkan dengan hiburan Wayang Kulit semalam suntuk•
Adapun perawatan Pusaka Tongkat, setelah upacara Oleh petugas diserahkan kembali kepada keturunan cikal bakal untuk disimpan kembali.

Diriwayatkan oleh : KH.Agus Muhammad B.H. Bin Kyai Marfu.

Komentar

Postingan Populer