WONOTUNGGAL

BEBODRO PERKAMPUNGAN WONOTUNGGAL







       Nyai Sarinten dibantu Kyai Sutojoyo bekerja mengerjakan sawah dengan dialiri dari saluran, sedangkan setiap hari Kyai Singoranu sering meninjau (nylungupi) dan petak sawah itu diberi nama "Blok Karang”.
Semakin bertambahnya area persawahan, Kyai Embo Jamadi (Mbah Kyai Koro Jonggol) masih akan membangun persawahan yang kedua kalinya, sebelum memulai pekerjaannya Kyai Embo bertapa beberapa hari, selama bertapa setiap mendapat pengawasan dari Kyai Singoranu, konon selama bertapa siang dan malam tidak pernah berbaring, maka oleh Kyai Singoranu diberi julukan Kyai Koro Jonggol, yang makamnya sekarang di Desa Kemligi.

       Selesai bertapa maka mulailah mengerjakan saluran dari sebelah bawah dan setelah hampir selesai terjadilah sengketa dengan orang-orang dari utara (yang sekarang Desa Kreo) karena berebut tempat untuk mengambil air dari sungai Lojahan, dałam suatu kesempatan Kyai Singoranu dapat mendamaikan serta dapat terjalin kerja sama dalam membuat saluran yang ketiga untuk kepentingan bersama, karena persengketaan diatas terjadi di daerah kerja Nyai Sarinten yang akhirnya dapat bersatu, manunggal menjalin kerja sama, maka tempat tersebut oleh Mbah Kyai Singoranu diberi nama "Desa Wonotunggal” dan terjalin pula kerja sama. Yang wilayahnya di pihak Kyai Embo maka saluran itu diberi nama Saluran Brayo, dalam arti Brayan (baren-bareng) yang sekarang di Desa Brayo ada petilasannya. Waktu bertapa bernama Mbah Koro Jonggol.

Diriwayatkan Oleh : Kh.Agus Muhammad B.H. bin Kyai Marfu'.

Komentar

Postingan Populer